Esai
Seluruh pulau memadamkan lampu, dan kamu pun ikut hening

Malam sebelumnya, Ogoh-Ogoh telah terlihat — patung raksasa setinggi beberapa meter dipanggul di bahu menyusuri jalan, gong dan petasan mengguncang seluruh Denpasar, wajah-wajah besar berwarna mencolok itu menyeramkan dalam cahaya obor; lalu patung-patung itu dibakar, abunya berhamburan ke langit malam, kerumunan masih berlama-lama sebelum perlahan bubar. Pagi berikutnya, menghampiri jendela, di luar adalah kesunyian yang belum pernah terdengar di pulau ini.
Nyepi adalah Tahun Baru Saka Bali, tiap Maret. Logikanya unik: legenda menyebut roh jahat berkeliaran di seluruh pulau pada malam Tahun Baru, dan jika pulau jatuh sepenuhnya senyap, semua lampu padam, roh-roh itu mengira tak ada yang tinggal di sini dan pergi. Maka hari ini bukan hanya laku diri tetapi ritus kolektif seluruh pulau — tak boleh menyalakan lampu, tak boleh bekerja, tak boleh keluar, tak boleh bersuara, bahkan satu-satunya bandara internasional Bali tutup dua puluh empat jam. Patroli tradisional Pecalang menjaga jalan memastikan tak seorang pun keluar, dan wisatawan asing pun harus tetap dalam batas penginapannya.
Hari itu, sekelompok orang — beberapa lelaki, beberapa perempuan, teman seperjalanan yang telah bermain melintasi Bali bersama — dikurung di penginapan yang sama. Tanpa tempat untuk pergi, semua malah merasa lega: ada yang membaca di tepi kolam, ada yang membayar tidur, ada yang bermain kartu mengelilingi meja. Tanpa Wi-Fi, tanpa rencana, waktu ditarik panjang, cukup panjang untuk memperhatikan hal-hal yang takkan diperhatikan saat memburu jalan — cara seseorang tertawa, misalnya, dan bagaimana ia kebetulan duduk tepat di sampingmu.
Yang paling ajaib adalah saat malam tiba. Dengan seluruh pulau dilarang menyalakan lampu, langit menjadi gelap total, dan bintang muncul satu per satu, begitu banyak sampai orang merasa belum pernah benar-benar melihat langit malam. Beberapa dari mereka duduk dalam gelap di tanah halaman, kepala mendongak, tak ada yang bicara. Dalam gelap orang tak bisa membaca raut wajah orang lain, namun justru lebih jelas merasakan orang di sebelah — lengannya hanya beberapa sentimeter dari lenganmu, keduanya tak menjauh. Tanpa mesin, tanpa musik, cukup sunyi untuk mendengar detak jantung sendiri, dan mendengar pula, bahwa ia berdetak sedikit lebih cepat dari biasa.
Lebih larut malam sedikit angin bangkit, membawa harum manis kamboja dari kegelapan. Seseorang berkata lirih, dan tak ada yang menjawab, namun kata-kata itu seakan disimpan udara. Keduanya duduk bahu bersanding bahu, tak ada yang bicara lagi, hanya membiarkan kesunyian raksasa itu menarik mereka makin dekat dan makin dekat — cukup dekat untuk mendengar, dengan jelas, irama napas yang lain.
Pada fajar berikutnya, Bali terbangun — sepeda motor, lonceng kuil, suara-suara di mulut gang, masing-masing kembali. Kelompok itu berdiri di jendela mendengarkan, seakan baru keluar dari mimpi yang sangat panjang, sangat sunyi. Seluruh hari gelap dan hening itu telah diam-diam mendorong maju beberapa hal yang tak bisa diucapkan. Kurasa kamu pun akan paham: sebagian hal tak terkatakan hanya bisa didengar saat sebuah pulau telah mematikan, untukmu, segala suara dan segala cahaya — dan kamu kebetulan tertinggal di dalamnya, bersama satu orang itu.
Esai