Lewati ke konten utama

Esai

Di kota di ujung paling timur Indonesia, menyalakan cahaya lilin sekota

Pada malam Jumat Agung, Larantuka nyaris tanpa cahaya listrik, hanya cahaya lilin. Seluruh kota membawa sebatang lilin di tangan, bergerak perlahan menyusuri jalan, nyalanya menyatu menjadi sungai, mengalir sunyi di tepi pelabuhan yang gelap. Udara menyimpan asin laut dan aroma lilin yang meleleh; tanpa keriuhan, hanya doa yang lirih, dan bunyi ombak menghempas pantai.

Inilah Semana Santa — tradisi Pekan Suci yang dibawa misionaris Portugis ke Pulau Flores lebih dari empat ratus tahun lalu. Legenda menyebut pada 1510 sebuah patung Bunda Maria terdampar di pantai Larantuka bersama sebuah kapal Portugis yang karam, dan warga, menyebutnya Tuan Ma, memuliakannya sampai kini. Di Indonesia, negara yang mayoritas Muslim, kota kecil di ujung timur pulau ini telah menjaga Jumat Agung Katolik bergaya Portugis generasi demi generasi, bahkan arak-arakan patung suci pun harus menempuh sebagian jalan lewat laut — kota ini bahkan disebut "Kota Bunda Maria Rosario."

Seorang perempuan tua menahan angin dengan hati-hati memakai telapaknya, menjaga lilin di tangannya yang nyaris terus dipadamkan angin laut, berdoa lirih sambil berjalan, sebuah gerak yang pasti telah ia lakukan seumur hidup. Patung Tuan Ma dikeluarkan hanya pada satu hari ini dalam setahun, berselubung hitam berkabung, diusung perhentian demi perhentian melalui kota kecil, dan di tiap tempat yang ia lewati, lebih banyak cahaya lilin jatuh mengikuti di belakang.

Satu ruas arak-arakan ditempuh lewat laut: patung diangkut ke sebuah perahu, bergerak perlahan menyusuri teluk malam, orang-orang di pantai mengangkat lilin mereka menyambutnya, segaris cahaya yang bergoyang terpantul di permukaan air. Berdiri di tepi pelabuhan, angin laut sejuk, lelehan lilin menetes agak panas di punggung tangan, doa terbawa berombak dari kejauhan, diambil lagi oleh bunyi ombak. Pada saat itu kamu lupa apakah kamu percaya; kamu hanya merasakan seluruh kota melakukan, dengan ringan dan penuh kehati-hatian, satu hal yang sama.

Gang-gangnya sempit, dinding rumah-rumah tua di kedua sisi dihangatkan kuning oleh cahaya lilin, sebuah altar kecil ditata di tiap ambang pintu, dibentang kain putih, ditata bunga segar. Angin berembus dari laut, ratusan nyala lilin condong ke arah yang sama bersama, lalu perlahan menegak bersama; seluruh hamparan cahaya yang bergoyang samar itu menahan napas lebih dari iluminasi megah mana pun.

Arak-arakan baru berakhir larut malam. Aku mengikuti barisan cahaya lilin satu ruas, tak memeluk agama itu, tak memahami doa-doanya, namun kota yang penuh nyala sunyi itu tetap melambatkanku. Aku berdiri di tepi pelabuhan, menatap beberapa lilin terakhir bergoyang samar dalam angin laut — dan kurasa kamu pun akan paham bahwa sebagian kekhusyukan tak butuh kamu memahaminya, hanya butuh kamu kebetulan hadir, kebetulan rela, menemaninya menempuh sunyi satu malam ini sampai akhir.

Esai