Lewati ke konten utama

Esai

Ratusan lilin, mengelilingi stupa tiga kali

Makha Bucha

Selepas malam tiba, stupa kuil dikelilingi lingkaran cahaya lilin yang bergerak perlahan. Udara menyimpan dupa dan lilin, hangat dan sunyi. Tiap orang memegang sebatang lilin, beberapa batang dupa, dan setangkai teratai, berjalan mengelilingi stupa ke arah yang sama. Malam itu dihabiskan menemani ibu — ia hidup sendiri tahun-tahun ini, telah memeluk Buddha hampir seumur hidupnya, dan malam mengelilingi stupa ini ia akan datang apa pun yang terjadi. Menerima dua lilin, satu diserahkan kepadanya, satu dipegang sendiri, masuk ke barisan, nyalanya bergoyang samar dalam angin malam.

Inilah pengelilingan stupa pada Makha Bucha. Legenda menyebut pada malam purnama lebih dari dua ribu tahun lalu, seribu dua ratus lima puluh murid Buddha, tanpa janji sebelumnya, datang serempak ke hadapannya — dan semuanya arahat, telah tercerahkan. Pada malam itu juga Buddha mengajarkan inti laku: jangan berbuat jahat, berbuatlah baik, sucikan batin. Lebih dari dua ribu tahun kemudian, lilin di telapak mengelilingi malam itu — sebuah penghormatan yang tak butuh kata, diingat lewat tubuh.

Di depan, seorang ibu menuntun gadis kecil, menegakkan tangan mungil anaknya agar lilin tak miring dan menetes ke tangan; gerak itu lebih mudah dipahami daripada kitab mana pun. Lebih jauh ke depan seorang pemuda yang datang sendiri, mata terpejam, bibir bergerak samar, tak tahu apa yang ia gumamkan. Barisannya panjang, namun tak seorang pun bicara, hanya bunyi ratusan kaki menapak lembut di tanah, dan nyala lilin berkedip terang dan redup dalam angin.

Pada putaran pertama masih dihitung; di awal putaran kedua sudah terlupa. Nyala, harum, langkah, angin malam yang sejuk, perlahan menutupi lapis demi lapis kebisingan hari yang tersimpan di hati. Langkah melambat tanpa disadari — bukan karena lelah, melainkan karena tak ingin ia berakhir terlalu cepat. Inilah, mungkin, yang sungguh dilakukan ritus ini: dengan waktu tiga putaran, ia membuat orang melambat.

Aroma teratai samar, berbaur dalam dupa, tercium hanya dalam keheningan dalam. Ibu berjalan di sisi, langkahnya jauh lebih lambat dari masa mudanya, namun lilin di tangannya ia jaga mantap, takut angin memadamkannya. Sesekali melirik padanya, ia menatap lekat stupa di depan, bibirnya pun bergerak samar — kitab yang ia lantunkan hampir seumur hidup, namun jarang bersuara di hadapanku.

Setelah tiga putaran, kami berdua menancapkan lilin di tempatnya di depan stupa, di samping ratusan lilin lain, nyalanya menyatu menjadi satu lembar. Ibu berdiri lama, mata terpejam, telapak tangan terkatup. Berdiri di sampingnya, aku tiba-tiba sadar sudah sangat lama sejak aku sekadar menemaninya menuntaskan hal yang berarti baginya. Tiga putaran itu berjalan lambat, lambat sampai mengenang masa kecil, saat ia pun menuntunku begini, mengelilingi kuil demi kuil — kurasa jika kamu pun menemani seseorang yang menua dan menjunjung imannya melewati tiga putaran ini, kamu akan seperti aku, enggan melihat putaran-putaran ini berakhir terlalu cepat.

Esai