Lewati ke konten utama

Esai

Sehari sebelum ditahbiskan, ia dipanggul bak pangeran di bahu

Poy Sang Long

Anak lelaki itu tampak seakan melangkah keluar dari lukisan kuno — wajah dirias, mahkota bunga di kepala, mengenakan pakaian berbenang emas, namun matanya masih mata seorang anak. Ia tidak berjalan sendiri, melainkan dipanggul di bahu seorang dewasa, bergoyang lembut dalam arak-arakan, gong dan gendang serta sanak pemegang payung di depan dan belakang. Matahari garang, bayang payung bergeser di wajahnya; sesekali ia menunduk menatap kerumunan di tanah, lalu ditarik kembali oleh gong.

Inilah festival pentahbisan calon biksu suku Tai Yai (Shan), peristiwa keluarga termegah di wilayah Mae Hong Son, Thailand utara. Poy berarti festival, sang berarti calon biksu, dan long berasal dari "raja" — bersama, mendandani anak lelaki sebagai pangeran untuk dikirim menjadi biksu. Legenda menyebut ia menggemakan status Buddha sebagai pangeran sebelum ia melepas dunia: sebelum melepaskan segalanya, biarkan ia lebih dulu pernah memilikinya sekali, sepenuhnya. Maka untuk beberapa hari ini, anak dari keluarga biasa ini adalah pangeran kecil yang dipangku seluruh desa di telapak tangannya.

Keluarga mengantarnya ke kuil dengan cara sekhidmat mungkin, seakan berkata: kamu akan melakukan sesuatu yang sangat penting. Lelaki dewasa yang memanggulnya — mungkin seorang ayah, mungkin seorang paman — menahannya mantap sepanjang jalan, kepalanya sendiri bercucuran keringat, namun tak sepatah kata pun. Tiap kali arak-arakan berhenti, sanak datang merapikan ujung baju anak itu, menyeka keringatnya, sebuah kehati-hatian seakan menyiapkan hal yang takkan pernah datang lagi.

Gong, payung, dan kain berbenang emas menyala menyilaukan di bawah matahari garang, udara campuran debu, keringat, dan dupa. Dipanggul sepanjang hari, rias anak itu sedikit luntur, raut wajahnya berubah perlahan dari kesegaran awal menjadi sesuatu yang lelah, sedikit kosong. Menatapnya, orang mengenang saat-saat dalam hidupnya sendiri yang "belum sepenuhnya dipahami, namun diketahui penting" — separuh-paham yang semua orang pernah lalui.

Arak-arakan melewati jalan demi jalan, gong tak pernah berhenti. Orang di tepi jalan berhenti dari kesibukan untuk mendongak, sebagian mengatupkan telapak tangan ke arah anak itu. Pada saat itu orang paham: ia dipanggul setinggi ini bukan hanya agar terlihat baik, melainkan agar seluruh desa bisa melihat — anak ini, hari ini, akan melakukan hal yang bahkan orang dewasa pun menghormatinya.

Arak-arakan berakhir, riasnya akan dihapus, pakaian mewahnya akan diganti jubah biksu, dan anak itu akan tinggal di kuil beberapa waktu. Berdiri di tepi jalan menatapnya dipanggul menjauh — kurasa kamu pun akan tiba-tiba menangkap bahwa keriuhan ini sebenarnya sebuah perpisahan yang lembut: ucapan selamat tinggal pada sebagian masa kanak. Dan seluruh desa yang meletakkan pekerjaannya untuk berjalan menemaninya sepanjang ruas ini adalah agar ia mengingat bahwa ia pernah dipanggul, dengan khidmat, di bahu seseorang, diantar sepanjang sebagian jalan.

Esai