Lewati ke konten utama
Ilustrasi Denpasar: alun-alun yang namanya mengingat 1906, Denpasar, Bali

Denpasar: alun-alun yang namanya mengingat 1906

Di utara lapangan, padmasana batu putih di titik tertinggi Pura Jagatnatha punya kursi yang dibiarkan kosong untuk Sang Hyang Widhi.

Lapangan Puputan Badung di pusat Denpasar mendapat namanya dari tahun 1906. Tahun itu tentara Belanda menyerbu Badung, dan keluarga puri beserta pengikutnya, berpakaian putih, berjalan menyongsong senapan alih-alih menyerah. Dalam bahasa Bali tindakan itu disebut puputan.

Museum Bali di sisi timur lapangan dibuka tahun 1932 dan menyimpan benda dari masa prasejarah hingga masa modern: perkakas, topeng, kain tenun, perlengkapan upacara. Di utara lapangan ada Pura Jagatnatha, dengan padmasana dari batu putih di titik tertinggi; kursi di puncaknya dibiarkan kosong untuk Sang Hyang Widhi.

Di tenggara pusat kota, di Renon, Monumen Bajra Sandhi menjulang di tengah lapangan rumput yang luas. Nama resminya Monumen Perjuangan Rakyat Bali. Di dalamnya, deretan diorama menceritakan sejarah pulau ini dari masa kuno sampai perang kemerdekaan, dan lantai teratasnya menghadap ke seluruh kota. Pesta Kesenian Bali juga digelar di Denpasar setiap Juni dan Juli, berpusat di Taman Werdhi Budaya.

Sanur, di pantai timur, juga termasuk wilayah Kota Denpasar. Ombak di sisi ini kecil, ada jalur panjang di belakang pantai untuk berjalan kaki atau bersepeda, dan matahari terbit langsung dari laut. Di pasir berjajar jukung, perahu tradisional nelayan Sanur dengan cadik di kiri dan kanannya. Kebanyakan dibuat dari kayu belalu atau suar, dengan kelengkapan dari kayu camplung dan waru. Bentuknya mengacu pada Gajah Mina, ikan raksasa dalam cerita wayang Bali, catnya berwarna tegas, dan satu jukung hanya memuat dua sampai tiga orang.

Festival di kota yang sama

Pesta Kesenian Bali 2027: sebulan tari dan gamelan di Denpasar, perkiraan pertengahan Juni–pertengahan Juli

Panduan lengkap: tanggal, transportasi, dan yang bisa dipesan →

Sumber

Esai perjalanan lainnya