Lewati ke konten utama

Esai

Memutar keluar dari jalur utama, barulah laut benar-benar terbuka

Taman Nasional Komodo

Naik perahu di Labuan Bajo, seperahu orang yang tak pernah bertemu, mesin berderu mantap, angin laut membawa garam dan solar. Laut berubah, sedikit demi sedikit, dari keruh pelabuhan menjadi biru yang lebih dalam, lebih bersih. Taman Nasional Komodo bukan satu titik melainkan sehampar laut bertebaran pulau — Komodo, Rinca, Padar — masing-masing harus dikelilingi sebelum bisa dicapai.

Hamparan laut ini dijadikan taman nasional karena di sini hidup komodo — kadal terbesar yang masih hidup di dunia, ditemukan hanya di beberapa pulau ini di seluruh bumi. Mereka telah hidup di sini entah berapa puluh ribu tahun, memiliki laut ini lebih dulu dari turis mana pun, perahu mana pun. Keberadaan taman ini, ketimbang membiarkan orang datang melihatnya, lebih untuk menjaga laut ini, atas nama mereka.

Untuk melihat komodo orang berjalan dipandu penjaga, menjaga jarak. Jarak itu bukan pembatasan melainkan justru alasan tempat ini berharga: ia liar, ia tak ada untukmu. Penjaga merendahkan suaranya menyuruh kami berhenti; di depan seekor komodo perlahan menyeberang jalan setapak, lidahnya menjulur masuk dan keluar, sama sekali tak mempedulikan kelompok orang ini. Kami berdiri tak bergerak, bahkan tak berani menekan rana terlalu keras.

Sore, mendaki ke ketinggian Pulau Padar, tiga teluk terbuka di bawah, warna pantai merah jambu itu berasal dari serpih sejenis karang merah. Kelompok ini, masih asing tadi pagi, separuh jalan ke atas sudah saling mengoper air, mengulurkan tangan menarik satu sama lain; di puncak semua menyenyap, duduk bahu-membahu menatap tiga lengkung itu, tak ada yang terburu memotret, angin laut mengeringkan keringat sedikit demi sedikit.

Biru laut berlapis-lapis: di dekat cukup jernih untuk melihat karang di bawah, jauh di sana mengendap nyaris kehitaman. Seekor elang berputar di atas kepala, bayangnya menyapu pantai; selain angin dan ombak, nyaris tak ada suara lain. Duduk lama di puncak, orang menemukan bahwa dalam kesunyian laut ini ada sebuah bobot — ia tak indah untuk menyenangkan siapa pun; ia memang selalu di sini, indah sangat, sangat lama.

Semua ini terletak di luar jalur pelayaran utama, memakan setengah hari lebih, jalan memutar yang lebih panjang — dan kurasa kamu pun akan paham seperti kami: memutar tak pernah berarti tersesat, ia yang membuat seluruh laut akhirnya terbuka untukmu, setelah kamu rela menempuh sedikit lebih jauh. Di perahu pulang, semua terbakar merah matahari, namun bicara lebih banyak; laut yang dilihat hanya setelah setengah hari memutar itu seakan telah diam-diam menyatukan seperahu orang asing ini.

Esai