Lewati ke konten utama
Ilustrasi Bonjol: hari-hari tanpa bayangan di tengah hari, Bonjol, Sumatera Barat

Bonjol: hari-hari tanpa bayangan di tengah hari

Di utara Bukittinggi, di perbukitan Kabupaten Pasaman, taman di tepi jalan menandai garis khatulistiwa di tanah, satu kaki di utara dan satu di selatan.

Sekitar ekuinoks Maret dan September, deklinasi matahari sama dengan lintang Bonjol. Pada tengah hari matahari berada di zenit sehingga bayangan benda tegak seolah menghilang. Peristiwa ini disebut kulminasi utama, dan harinya dikenal sebagai hari tanpa bayangan. Bonjol adalah kota kecil di pedalaman Sumatera Barat, dan garis khatulistiwa melintas tepat di sana.

Dari Bukittinggi, jalan ke utara masuk ke perbukitan Kabupaten Pasaman dan memotong garis khatulistiwa di Bonjol. Taman di tepi jalan menandai garis itu di tanah, sehingga pengunjung bisa berdiri dengan satu kaki di belahan bumi utara dan satu lagi di selatan. Sekelilingnya lereng semua, dan jalannya menanjak, berbelok, lalu turun lagi.

Nama kota ini melekat pada seorang tokoh. Tuanku Imam Bonjol memimpin gerakan Padri pada awal abad ke-19 dari benteng di sini, yang jatuh ke tangan pasukan Belanda pada 1837. Ia dibuang dan wafat di Minahasa, Sulawesi Utara, pada 1864. Ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional, dan wajahnya pernah tercetak di uang kertas lima ribu rupiah emisi lama.

Di Taman Equator Bonjol berdiri patungnya dan sebuah museum yang memakai namanya, berisi koleksi tentang Perang Padri dan riwayat hidupnya. Setiap 21–23 Maret dan 21–23 September, hari-hari tanpa bayangan itu, taman ini menjadi tempat Pasaman Equator Festival yang sudah berjalan lebih dari dua puluh tahun, dan BMKG pernah memilihnya sebagai lokasi peringatan Hari Meteorologi Dunia ke-74.

Sumber

Esai perjalanan lainnya