Dua tabuik Pariaman berakhir di laut
Panduan terkait: Tabuik Pariaman 2027
Selama Tabuik, kawasan Pasa dan Subarang di Pariaman masing-masing membuat satu tabuik. Namanya dari kata Arab tabut, peti kayu. Menurut legenda, buraq, makhluk bersayap berkepala manusia, membawa peti berisi jasad Husain ke langit, dan tabuik dibuat dalam rupa buraq yang mengusung peti itu.
Husain, cucu Nabi Muhammad, gugur dalam pertempuran Karbala, dan Tabuik jatuh pada bulan Muharam sebagai peringatan Asyura. Menurut tradisi lisan, Tabuik muncul di Pariaman sekitar 1826–1828 dengan pengaruh awal dari muslim Syiah keturunan India. Sejak 1910 pelaksanaannya mengikuti adat Minangkabau, dan pada 1982 masuk kalender wisata Padang Pariaman.
Ritual dimulai 1 Muharam dengan maambiak tanah (mengambil tanah), lalu manabang batang pisang, maatam, maarak jari-jari dan maarak saroban, sampai tabuik naik pangkek, saat semua bagiannya dirakit. Tabuik yang sudah jadi tingginya lebih dari sepuluh meter dan beratnya ratusan kilogram. Warga mengusungnya bersama diiringi gandang tasa.
Pada hari terakhir tabuik di-hoyak lebih dulu, lalu diarak ke Pantai Gandoriah dan dibuang ke laut sebelum matahari terbenam. Dalam bahasa Minang prosesi ini disebut Tabuik dibuang ka lauik.
Panduan lengkap festival ini
Tabuik Pariaman 2027: perkiraan mulai sekitar 6 Juni, tabuik dibuang ke laut di Pantai Gandoriah
Panduan lengkap: tanggal, transportasi, dan yang bisa dipesan →



