Pisau dapur Kinmen ditempa dari selongsong peluru propaganda
Setelah pengeboman 1958, daratan Tiongkok menembaki Kinmen hanya pada tanggal ganjil, pola yang bertahan sampai 1979.
Banyak baja di bengkel pandai besi Kinmen berasal dari selongsong peluru pengeboman 1958, yang di Taiwan dikenal sebagai Pengeboman 823. Wu Tseng-dong, generasi ketiga bengkel pisau Chin Ho Li, mengambil alih tempaan keluarganya pada 1983 dan memperkirakan sudah membuat sekitar 400.000 pisau dalam tiga dekade. Sebagian besar dari selongsong peluru propaganda, yang hanya diisi sedikit bahan peledak untuk mendorong lempeng baja berisi selebaran keluar dari dasarnya. Peluru ini tidak meledak saat jatuh, jadi selongsongnya tetap utuh dan menjadi baja yang pas untuk ditempa menjadi bilah pisau.
Dalam 44 hari paling sengit pengeboman 1958, hampir setengah juta peluru meriam jatuh di Kinmen dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Terowongan Zhaishan, di pesisir barat daya Jincheng, adalah kanal berbentuk huruf A yang dipahat ke dalam granit agar perahu kecil bisa tambat dan bongkar muat di dalamnya, aman dari tembakan; air laut masih mengisi kanalnya, dan dinding batunya penuh guratan bekas pahatan.
Pesisir barat Kinmen sangat dekat dengan Xiamen. Pada hari cerah, gedung-gedung tinggi di seberang terlihat jelas, dan malam hari seluruh pantai itu terang oleh lampu. Setelah pengeboman 1958, pihak daratan Tiongkok beralih menembak hanya pada tanggal ganjil, dan pola itu berlangsung sampai 1979. Selama tahun-tahun itu kedua pihak juga saling berteriak lewat pengeras suara raksasa di seberang laut, dan Stasiun Siaran Mashan di ujung timur laut pulau masih berdiri. Kini kapal penumpang hilir mudik di antara keduanya lewat jalur Mini Three Links.
Pada Oktober 1949, Pertempuran Guningtou pecah di pantai barat laut Kinmen. Pada 23 Agustus 1958, pengeboman artileri yang di Taiwan dikenal sebagai Pengeboman 823 dimulai. Banyak hal yang terlihat di pulau ini sekarang berawal dari dua peristiwa itu: tiang-tiang antipendaratan yang mencuat miring dari pantai, bunker di sepanjang pesisir, mulut terowongan di kaki bukit, barak tua bercat loreng, dan jalur pohon penahan angin yang dulu ditanam besar-besaran oleh tentara.
Pesisir di sekitar Guningtou lapang dan sepi, dengan deretan pemecah gelombang beton di tepi air. Di Desa Beishan, tak jauh dari Museum Pertempuran Guningtou, sebuah rumah tua bergaya Barat masih menyimpan lubang-lubang peluru dari pertempuran itu di dindingnya.
Houpu adalah kawasan tua kota Jincheng. Lorong beratap lengkung bata merah di Jalan Mofan, markas militer era Dinasti Qing, dan beberapa kelenteng kecil berada dalam jarak beberapa blok. Toko-toko biasanya menjual arak sorgum, gongtang kacang, dan kue semprong berdampingan.
Di permukiman bergaya Minnan, rumah-rumah tua berdinding bata merah di atas fondasi granit berdempetan di bawah bubungan atap berujung ekor walet, dindingnya belang-belang dimakan angin laut. Di mulut kampung berdiri patung singa angin, sebagian berjubah merah, dipasang warga untuk menahan angin.
Sumber



