
Perjalanan
Pilihan EditorTabuik Pariaman
Ringkasan Perjalanan
Tabuik adalah festival peringatan yang diadakan di Pariaman, Sumatra Barat, Indonesia pada bulan pertama kalender Islam, ketika penduduk mengusung patung kertas berbentuk menara yang lebih tinggi dari bangunan dua lan…
Baca Cepat
Cuplikan Perjalanan
- 01
Tabuik mengubah duka atas kesyahidan seribu tahun lalu menjadi patung kertas berbentuk menara yang lebih tinggi dari bangunan dua lantai, diusung seluruh kota melewati jalan-jalan Pariaman — sebuah festival yang memad…
en.wikipedia.org - 02
Arak-arakan sepanjang hari akhirnya mengarah ke satu momen menjelang petang: barisan tiba di tepi laut, dan saat genderang paling berkobar Tabuik perlahan dilepas ke laut — pemandangan paling representatif Pariaman.
en.wikipedia.org - 03
Merencanakan perjalanan dengan Padang sebagai basis lebih fleksibel, sekitar satu jam lebih berkendara ke Pariaman; tanggal kalender Islam maju lebih awal setiap tahun, jadi pastikan tanggal resmi yang diumumkan tahun…
en.wikipedia.org
Di kota pesisir kecil Pariaman di Sumatra Barat, sebuah menara kertas yang lebih tinggi dari rumah dua lantai dipanggul seluruh kota menyusuri jalan utama, dan akhirnya dilarung ke laut saat senja — inilah Tabuik, sebuah duka berusia seribu tahun, dibuat menjadi bentuk yang bisa dilihat.
Apa sebenarnya festival Tabuik itu?
Tabuik adalah festival peringatan yang digelar di Pariaman, Sumatra Barat, pada bulan Muharram dalam kalender Islam. Ia memperingati Husain, keturunan Nabi, yang gugur dalam sebuah pertempuran di Karbala.
Tradisi ini dibawa ke pesisir Sumatra Barat dahulu oleh prajurit Syiah dari India, digelar pada sepuluh hari pertama bulan Muharram dalam kalender Islam. Kata "Tabuik" merujuk pada patung kertas menjulang menyerupai menara itu — warga memanggulnya dalam arak-arakan keliling kota, lalu akhirnya melarungnya ke laut.
Di bawah menara yang rumit itu disangga seekor makhluk mitos bernama buraq — tunggangan yang, dalam legenda, membawa jiwa sang syahid melayang naik. Dengan kata lain, seluruh menara ini adalah kesedihan berusia seribu tahun, dibuat menjadi bentuk yang bisa dilihat.
Kapan festival Tabuik digelar? Tanggal Masehinya yang mana?
Tabuik jatuh pada bulan Muharram dalam kalender Islam (yaitu masa Asyura itu), dengan ritualnya terpusat pada sepuluh hari pertama Muharram.
Yang ingin kuingatkan kepadamu: kalender Islam murni lunar, satu tahun sekitar sebelas hari lebih pendek dari kalender Masehi (solar), sehingga setelah dikonversi ke kalender Masehi, tanggalnya bergeser lebih awal setiap tahun. Justru karena itu, tanggal suatu tahun yang kamu lihat di internet tidak bisa langsung diterapkan ke tahun saat kamu hendak pergi.
Saranku sangat praktis: jangan menghitung sendiri, sebelum berangkat pastikan tanggal pengumuman resmi tahun itu, berpedoman pada pengumuman resmi. Selesaikan hal ini sebelum memesan tiket pesawat dan penginapan, agar rencana perjalananmu tidak sia-sia.
Di mana Pariaman? Bagaimana cara ke sana?
Pariaman (Pariaman) terletak di garis pesisir Sumatra Barat, Indonesia. Bagi para pelancong, titik masuk yang paling lancar adalah Padang (Padang), ibu kota provinsi Sumatra Barat.
Berkendara dari Padang ke Pariaman memakan waktu sekitar satu jam lebih. Menyusuri pesisir ke utara, makin dekat ke Pariaman, bau laut makin pekat — ini pun mengisyaratkan ke mana akhirnya seluruh festival akan menuju.
Saat menyusun rencana, menjadikan Padang sebagai basismu akan lebih mantap: terbang dulu ke Padang, beres-beres, lalu bergerak ke Pariaman pada hari Tabuik.
Festival Tabuik cocok untuk siapa?
Jika perjalanan yang kamu sukai adalah melangkah masuk ke hari yang benar-benar dijalani sebuah kota, bukan pertunjukan yang disiapkan untuk wisatawan, maka Tabuik akan sangat cocok dengan seleramu.
Ia bukan perjalanan yang santai dan ringan. Matahari garang, angin laut bercampur tabuhan gendang, bau keringat dan dupa, dan kerumunan akan mendorong serta mengimpitmu, membawamu masuk ke arak-arakan tanpa ujung yang terlihat. Gendang tak berhenti sepanjang hari, pukulan demi pukulan menghantam dada.
Maka ini lebih cocok untuk: orang yang rela berdiri seharian di bawah terik dan di tengah kerumunan, yang ingin merasakan beratnya keyakinan setempat. Datang bersama teman seperjalanan akan lebih baik — dalam irama yang teratur dan berat itu, ada seseorang di sampingmu yang turut terbawa, perasaan itu akan terasa lebih utuh.
Bagaimana menyusun perjalanan? Menginap di mana, bagaimana menyambung transportasi?
Kerangka paling sederhana adalah begini: jadikan Padang (Padang) basis penginapan serta keluar-masuk, lalu pada hari Tabuik baru menuju Pariaman.
Transportasi: Padang ke Pariaman berkendara sekitar satu jam lebih, menyusuri pesisir Sumatra Barat. Hitung perjalanan ini ke dalam waktu hari itu, sisakan kelonggaran yang cukup.
Penginapan: menaruh titik singgah di Padang akan lebih fleksibel, pada hari itu baru sekali jalan menuju Pariaman, dan kembali setelah menyaksikan puncaknya.
Pembagian waktu: puncak pelarungan Tabuik ke laut umumnya berlangsung saat senja di pantai, disarankan datang lebih awal untuk mengambil tempat. Dengan kata lain, siang hari kamu bisa perlahan mengikuti arak-arakan, dan simpan tenaga untuk saat di senja itu.
Seperti apa suasana di lokasi? Bagaimana arak-arakan memanggul menara berlangsung?
Tabuik itu lebih tinggi dari rumah dua lantai, tubuh berbentuk menara dari kertas dan bambu berwarna semarak, dipanggul di bahu kerumunan besar, bergerak perlahan menyusuri jalan-jalan Pariaman. Seluruh kota berjalan di belakangnya, dan kamu pun akan didorong, diimpit, masuk ke arak-arakan tanpa awal dan tanpa ujung yang terlihat ini.
Para pemanggul berganti rombongan demi rombongan. Seorang pemuda turun dengan wajah bercucuran keringat, dan seketika sepasang tangan lain mengambil tempatnya, tak sesaat pun membiarkan menara berhenti; tangan para penabuh gendang memerah, namun iramanya tak pernah meleset satu ketuk pun. Orang bisa melihat mereka tak sedang tampil, melainkan memanggul, atas nama seluruh kota, sebuah hal yang sangat penting.
Menara itu maju bergoyang di atas kepala kerumunan, sayap sang makhluk gemetar samar mengikuti tiap langkah, seakan benar-benar hendak terbang. Mengikuti lama, orang dibawa oleh irama yang berat itu, tak lagi bisa membedakan apakah ia sedang menonton sebuah ritus, atau telah menjadi bagian darinya.
Pada puncak pelarungan menara ke laut, apa yang akan kamu lihat?
Laut makin dekat, gendang ditabuh makin mendesak, dan bunyi ombak perlahan mengemuka dari bawah gendang. Bayang menara jatuh di pantai yang dicelup merah matahari terbenam, terentang panjang; langkah para pemanggul berat, tiap satu menekan ke pasir basah yang lembut, meninggalkan jejak demi jejak yang cepat diratakan laut.
Saat senja, arak-arakan mencapai pantai, gendang pada puncak paling garangnya, dan Tabuik, dipanggul sepanjang hari, perlahan dilepas ke laut. Aku berdiri di pantai menatapnya pecah dan tenggelam dalam ombak, seluruh kota menyenyap.
Kamu pun akan paham, pada saat itu: bahwa segala kemegahan dan keriuhan sehari ini adalah demi mencapai saat ini — mengembalikan, dengan lembut, kepada laut, sebuah duka yang dipanggul sepanjang hari, dan sepanjang tahun. Inilah adegan paling khas dari Pariaman.
Sebelum pergi, adat dan hal keselamatan apa yang perlu diketahui?
Ini adalah festival yang memadukan agama dengan tradisi lokal, bukan kegiatan wisata semata. Tabuik memikul ingatan yang sangat berat; mohon hormati ritualnya sendiri, dan hormati pula kerumunan di sekitarmu yang sedang ikut serta.
Kerumunan: seluruh kota akan mengikuti menara, jalanan dan pantai akan sangat sesak. Puncak pelarungan menara ke laut umumnya saat senja, jika ingin melihatnya dengan jelas, pastikan tiba di pantai lebih awal.
Stamina dan perlindungan: matahari garang, untuk bertahan dari arak-arakan siang hingga pelarungan saat senja, ingatlah menjaga kondisi diri sendiri dan teman seperjalanan.
Sikap batin: ketika menara tenggelam ke laut dan seluruh kota menyenyap, ikut menyenyap akan menjadi tanggapan paling alami terhadap ritual ini.
Mengapa layak datang khusus untuk perjalanan ini?
Karena Tabuik mengubah sesuatu yang abstrak — duka atas sebuah kesyahidan seribu tahun lalu — menjadi sesuatu yang bisa kamu saksikan dengan mata sendiri sambil berdiri di pantai.
Makin rumit menaranya, makin menunjukkan betapa berat ingatan ini. Keriuhan dan keberatannya sepanjang hari, semuanya menuju saat itu di senja: mengembalikan duka kepada laut. Sejak prajurit Syiah membawa tradisi ini ke pesisir Sumatra Barat, Pariaman memanggul menara dan melarungnya ke laut tahun demi tahun, hingga menjadikannya urusan seluruh kota.
Yang kamu saksikan bukan sekadar sebuah menara kertas, melainkan bagaimana sebuah kota memakai tenaga seharian untuk mengenang sesuatu yang tak ingin dilupakan. Yang ditinggalkan perjalanan ini bukan gambar yang indah, melainkan beban yang dipanggul bersama oleh seluruh kota, dan diletakkan bersama pula.
Memanggul menara menyeberangi seluruh kota, lalu menyerahkannya kepada laut
Tabuik itu lebih tinggi dari rumah dua lantai, tubuh berbentuk menara dari kertas dan bambu berwarna semarak, dipanggul di bahu kerumunan besar, bergerak perlahan menyusuri jalan-jalan Pariaman. Gendang tak berhenti sepanjang hari, pukulan demi pukulan menghantam dada; seluruh kota berjalan di belakangnya, dan kamu pun didorong, diimpit, masuk ke arak-arakan tanpa awal dan tanpa ujung yang terlihat ini.
Ringkasan
Periode acara
2026-06-16 hingga 2026-06-28
Lokasi
Pesisir Pariaman, Sumatra Barat, Indonesia
Asal-usul
Memperingati kesyahidan Husain, keturunan Nabi, di Karbala
Tokoh utama
Patung berbentuk menara dari kertas dan bambu yang lebih tinggi dari bangunan dua lantai, di bawahnya menyangga makhluk mitos buraq
Puncak
Menjelang petang, Tabuik dilepas ke laut di tepi pantai
Transportasi
Jadikan Padang sebagai basis; sekitar satu jam lebih berkendara untuk tiba
Ringkasan Perjalanan
Rute Kota
- Pariaman di pesisir Sumatra Barat; capai dengan mobil dari Padang
- Pelarungan Tabuik ke laut memuncak saat senja di pantai — datang lebih awal
- Tradisi keagamaan dan lokal — hormati ritual dan kerumunan
Yang Perlu Diketahui
Panduan
Periksa pengumuman kota, transportasi, dan jam operasional secara terpisah.
Jika rencana mencakup kuil atau acara resmi, ikuti aturan setempat.
Periode nasional dan perpanjangan tiap kota dapat berbeda, jadi cek lagi sebelum final.
Tanya Jawab
Kapan festival Tabuik diadakan?
Jatuh pada bulan pertama kalender Islam (Muharam), dengan ritual terpusat pada sepuluh hari pertama Muharam. Kalender Islam murni lunar, sehingga tanggal Masehinya maju lebih awal setiap tahun; pastikan tanggal resmi yang diumumkan untuk tahun itu sebelum berangkat.
Apa itu Tabuik?
Tabuik adalah patung raksasa berbentuk menara dari kertas dan bambu, lebih tinggi dari bangunan dua lantai, di bawahnya menyangga makhluk mitos buraq yang menurut legenda membawa jiwa para syuhada. Penduduk mengusungnya dalam arak-arakan lalu melepasnya ke laut.
Bagaimana cara menuju Pariaman?
Pariaman berada di pesisir Sumatra Barat. Titik masuk paling mulus adalah ibu kota provinsi, Padang, dari sana sekitar satu jam lebih berkendara.
Kapan dan di mana puncak pelepasan Tabuik ke laut?
Puncaknya umumnya berlangsung menjelang petang di tepi pantai dan merupakan pemandangan paling representatif Pariaman. Jalanan maupun pantai sangat padat, jadi datanglah lebih awal untuk mengambil tempat.
Dari mana asal tradisi Tabuik?
Tradisi ini dibawa ke pesisir Sumatra Barat oleh prajurit Syiah dari India, untuk memperingati kesyahidan Husain, keturunan Nabi, dalam sebuah pertempuran di Karbala.
Apa yang perlu diperhatikan saat ikut serta?
Ini adalah festival yang memadukan agama dengan tradisi lokal; mohon hormati ritual dan kerumunan. Matahari sangat terik dan suara genderang sepanjang hari, jadi jagalah stamina diri sendiri dan teman seperjalanan.
Sumber
Lanjut Baca
Ide trip berikutnya
Tiket yang mungkin cocok untuk trip ini