Lembah Baliem: sumur garam dan batang pisang
Dunia luar baru melihat Lembah Baliem di pegunungan Papua pada 1938, dari jendela pesawat sebuah ekspedisi.
Sekitar satu jam berjalan kaki mendaki dari Jiwika, sebuah kampung di Lembah Baliem, ada sumur garam bernama Iluakaima, kolam air asin yang airnya keluar dari bawah tanah, lebarnya sampai sekitar empat meter. Sebuah film dokumenter tahun 1972 merekam cara membuat garamnya. Para perempuan menjunjung batang pisang di kepala, mengupas lapisan luarnya, menumbuk batangnya menjadi serat, lalu merendamnya di air asin. Setelah turun bukit, serat itu dibakar menjadi abu halus, diuleni dengan air menjadi kue garam, dibungkus daun pisang, dan dikeringkan hingga menjadi bongkahan.
Pada Juni 1938, pesawat ekspedisi ahli zoologi Amerika Richard Archbold terbang ke selatan dari Hollandia (kini Jayapura) dan melihat sebuah lembah lebar di tengah pegunungan Nugini, lengkap dengan kampung berpagar, ladang, dan parit drainase. Seorang tentara Belanda di pesawat menamainya Groote Vallei, Lembah Besar. Lembah Baliem panjangnya sekitar 80 km dan lebarnya 20 km, berada di ketinggian 1.600–1.700 meter, dan kini dihuni lebih dari 200.000 orang.
Kota utamanya Wamena, di tepi Sungai Baliem, dan kebanyakan pendatang terbang dari Jayapura. Kampung-kampungnya dihuni orang Dani, yang menyebut diri mereka Hubula, dan kelompok pegunungan lain; rumahnya honai, bundar beratap ilalang. Tanaman utamanya ubi jalar, hipere dalam bahasa setempat, dengan varietas yang masing-masing punya nama, seperti helaleke, yeleli, dan musaneken.
Orang Papua membawa barang dengan noken, tas jaring yang diikat tangan. Caranya berbeda di tiap komunitas, tetapi umumnya batang atau kulit kayu dari pohon kecil dan semak dipotong, dipanaskan di atas api, direndam, dijemur, lalu dipilin menjadi benang, kadang diwarnai dengan pewarna tumbuhan, sebelum disimpul satu per satu menjadi tas. Butuh berbulan-bulan untuk menguasainya. Noken dipakai membawa hasil kebun, kayu bakar, dan ikan, juga bayi dan hewan kecil; pada 2012 UNESCO memasukkannya ke daftar warisan budaya takbenda yang perlu pelindungan mendesak.
Pernikahan, kematian, dan perdamaian antarklan selalu disertai bakar batu: batu yang sudah membara disusun di lubang tanah bersama ubi, sayur, dan daging babi, lalu dibiarkan matang oleh uapnya; di Festival Budaya Lembah Baliem dekat Wamena setiap Agustus, lubang bakar batu juga digali. Babi diperjualbelikan di Pasar Jibama di Wamena, salah satu pasar tradisional terbesar di Kabupaten Jayawijaya, tempat hampir 85 persen warga masih bergantung pada pasar tradisional. Kandang babi di dalam pasar tidak cukup, jadi pedagang mengikat babi hidup di depan pasar.
Festival di kota yang sama
Festival Budaya Lembah Baliem 2027: tanggal belum diumumkan (setiap Agustus), perang-perangan dan bakar batu di Wamena
Panduan lengkap: tanggal, transportasi, dan yang bisa dipesan →
Sumber



