Lewati ke konten utama
Ilustrasi cetakan linoleum sebuah lampion merah yang tergantung di bawah selasar ruko, asap dupa tipis keluar dari pintu kelenteng beberapa langkah dari situ, Singkawang, Kalimantan Barat, Indonesia — ilustrasi editorial VoucherData

Tiap suku kata nama Hakka Singkawang adalah satu bentang alam

Sebagian besar warga Tionghoa Singkawang adalah Hakka, dan kelentengnya begitu banyak sampai kota ini dijuluki Kota Seribu Kelenteng.

Singkawang adalah kota di pesisir Kalimantan Barat, dan menurut satu versi, namanya berasal dari Sakawokng, kata dalam bahasa Dayak Salako untuk dataran rawa yang luas. Orang Hakka menyebutnya San Khew Jong, dan tiap suku katanya menunjuk satu bentang alam: san untuk bukit di belakang kota, khew untuk muara sungai, jong untuk laut.

Banyak warga Singkawang keturunan Tionghoa, kebanyakan Hakka. Kelentengnya begitu banyak sampai kota ini dijuluki Kota Seribu Kelenteng. Lampion merah tergantung di bawah emperan ruko sepanjang tahun, hanya beberapa langkah dari pintu kelenteng, wajan berisi minyak panas, dan papan nama toko.

Pada hari biasa, kelenteng tetap buka: sesajen dan dupa di depan pintu, lapak wajan beberapa langkah dari situ. Di gang-gang yang bercabang dari jalan besar ada kelenteng-kelenteng yang lebih kecil.

Jajanan yang ada di mana-mana adalah choi pan: kulit tipis dari tepung beras berisi bengkuang serut atau kucai, dikukus, disiram minyak bawang putih, lalu dicocol sambal.

Orang luar paling banyak datang saat Cap Go Meh, hari kelima belas setelah Imlek. Dalam parade Tatung hari itu, para perantara roh yang sedang kesurupan menusuk pipi dengan batang besi dan diusung keliling kota di atas tandu. Selain tatung Tionghoa, ada juga tatung Dayak.

Sumber

Esai perjalanan lainnya